Utk yang promil

Tulisan ini saya dedikasikan utk para catin atau para calon bumil. Saya memang bukan perawat, atau bidan, atau dokter. Semua yang saya tulis berdasarkan pengalaman saya saat 2x menjalani kehamilan…

Jika kamu memang berniat utk menjalankan program hamil, selain menyiapkan mental dan ilmu parenting/pengasuhan, ada baiknya kamu juga harus menyiapkan fisik, biar nggak terlalu kaget dengan perubahan2 yang (mungkin) akan kamu alami seperti

1. Sedari gadis, rawatlah kulitmu terutama kulit perut, rajin-rajinlah menggunakan hand and body lotion atau pelembab pada tubuhmu terutama area perut hingga panggul. Agar saat kamu hamil kalaupun muncul stretchmark tidak terlalu ‘parah’. Sebenernya nggak apa2 sih dan wajar saja jika bumil miliki stretchmark, tapi akan lebih baik jika bisa diminimalisir. Soalnya kalau sementara hamil justru nggak boleh sembarangan make produk karena khawatir ada zat2 dlm produk yg menyerap dalam kulit yang justru berbahaya bagi janin.

2. Rajin-rajinlah mengkonsumsi makanan dan minuman bahkan jika perlu suplemen tambahan kalsium serta zat besi. Ketika hamil, janin memperoleh kalsium dari tubuh ibunya. Dari bagian mana tubuh ibu? Tulang, gigi. Jadi jangan heran jika ibu hamil sering merasa cape, pegel, dll. Karena selain membawa janin, kalsium yg dimiliki ibu juga harus dibagi dg janin… Blm telat sih kalo pas hamil baru mulai mengkonsumsi kalsium dan zat besi, tapi terkadang ibu hamil kan ada yg mual muntah, susah makan ini iti dsb jd sebisa mungkin dikonsumsi sejak sekarang….

3. Nyambung dari no 2 tadi, periksakan gigi secara rutin tiap 6 bulan sekali ke dokter gigi. Bersihkan karang gigi, tambal semua gigi yang berlubang. Karena akan sedikit lebih sulit jika dlm kondisi hamil baru memeriksakan diri ke drg. Terlebih jika ingin menambal gigi…. Sikat gigi rutin itu sih g perlu saya tulis lagi, tapi percayalah, kadang di trimester awal kehamilan karena mual muntah kadang bumil jd susah bahkan mual jika mau menggosok gigi….

4. Periksakan, jika perlu selesaikan segala urusan yang berhubungan dg penyakit lambung (magh, asam lambung, gerd dkk). Hormon HcG yang cenderung meningkat saat hamil membuat produksi asam lambung tubuh juga meningkat, yg menyebabkan mual, muntah, tenggorokan terasa kering bahkan bisa menyebabkan batuk, serta cenderung memproduksi banyak lendir (ingusan misalnya). Kalau ini saran saya sih, biasakan sarapan, jgn menunda jadwal makan, dan perhatikan makanan dan minuman apa yng kira2 bisa memicu produksi asam lambung pada diri kalian masing2.

5. Konsultasi dg dokter agar bisa mendapatkan asam folat. Asam folat ini sebaiknya dikonsumsi 3 bulan sebelum kehamilan. Manfaat asam folat ini sangat banyak utk ibu hamil dan janin.

Hm apalagi ya? Kayaknya segitu aja dulu, kalo inget nanti aq tambah lagi… Sebenernya banyak sih yang haris disiapkan, baik secara fisik dan juga mental. Tapi menurut saya yg terutama adalah apa yg saya tulis di atas… Semoga para calon bunda semuanya bisa hamil pada waktu yangvtepat menurut Allah ya aamiin

Flies so fast

Wahh baru ngeh kalo udah hampir setahun lebih nggak update tulisan disini. Sebelum nulis lebih banyak ada beberapa hal yang harus dikonfirmasi dulu nih

1. Saya ternyata tidak ber rhesus negatif tapi positif, ada kesalagan pemeriksaan yang membuat salah hasil

2. Saya sudah melahirkan tgl 5 agustus 2017, seorang bayi yang Insya Allah akan menjadi insan yang shalehah, menjalankan perintaj Allah dan menjauhi segala larangan Allah, aamiin, bayi itu saya namakan Sophie Safaluna Puasa (Sophie berarti kebijaksanaan, Safaluna artinya bulan yang tenang, puasa itu marga dari pak suami). Alhamdulillah Sophie saat ini sudah 10 bulan lebih….

3. Wedewh mau nulis lagi tapi kok mata berat amat yach, tidur dl deh nanti dilanjut lagi

Entah apa nama perasaan ini, bukan sedih, bukan gembira namun terlalu abstrak untuk disebut ‘biasa aja’.

Keadaanku saat ini Alhamdulillah sehat, jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya walau terkadang sesekali masih ada gangguan-gangguan kecil.

Hari ini pikiranku nelangsa, melalangbuana tak tentu arah, menyusup pada bagian-bagian yang membuatku bertanya-tanya akan keputusan2 besar yang tereksikusi

Sulit menjabarkannya dlm kata2, membuatku begitu memaknai arti kalimat diam itu emas…

Mungkin memang begitu adanya

Allah punya rencana, dan aku hanya bisa berdoa juga berserah padaNya. 

Special vs Ordinary

Dalam hidup, terkadang banyak orang ingin menjadi orang yang luar biasa alias orang-orang yang spesial. Karena tak jarang orang-orang spesial memperoleh keistimewaan.

Namun ternyata menjadi spesial ternyata tak selamanya istimewa. Mungkin terkesan ‘sok’ tapi sejak kecil saya merasa bahwa saya adalah anak yang istimewa 😁

Istimewa karena proses menghadirkan saya ke dunia yang begitu luar biasa oleh kedua orangtua saya (dimulai dari sejarah pertemuan mereka, perjodohan hingga pernikahan yang sangat sinetronable, perjuangan hamil dan melahirkan saya, hingga riwayat masa kecil sampai dewasa)

Istimewa yg saya maksud adalah, dalam banyak hal kadang saya ‘agak berbeda’ dari kebanyakan umumnya. Beberapa saya sikapi dg syukur tp beberapa keistimewaan itu akhir2 ini membuat saya cukup terpukul (namun masih tetap bersyukur)

Kali ini saya ingin cerita tentang keistimewaan yang baru saya ketahui beberapa jam yg lalu.

Dimulai pada saat sy menerima pesan disalah satu grup wa, ada teman sejawat yang berencana melahirkan sc dan membutuhkan cadangan transfusi darah buat berjaga-jaga.

Dari percakapan itu barulah saya agak ‘ngeh’ kalau utk mendonorkan darah tak cukup hanya tahu goldar A, B, AB atau O semata, tapi juga harus tahu rhesusnya.

Pernah dgr sih soal rhesus saat belajar Biologi semasa SMA tp nggak terlalu paham seluk beluknya. Kalo goldar Insya Allah cukup ngertilah gak buta amat.

Saya tahu golongan darah saya sejak TK. Saya bergolongan darah B dengan kedua ortu juga bergolongan darah B. Hampir semua golongan darah dlm keluarga besar saya baik ibu maupun ayah adalah B.

Nah, berdasar obrolan WA pula saya jadi tahu bahwa penting utk mengetahui rhesus karena walaupun sama-sama bergoldar B tapi jika berbeda rhesus tdk bisa mendonor atau menerima darah.

Saya pun berniat nanti pengen cek rhesus tapi nanti-nantilah tdk dlm waktu dkt. Tak disangka-sangka, sore setelah membaca pesan WA, saya mendapat WA lainnya dari salah satu mahasiswa anakes yg meminta bantuan sy menjadi sukarelawan utk praktikumnya. Dia sedang praktikum untuk mengecek kolesterol ibu hamil dan butuh 50 responden ibu hamil. Saya pun menyetujui utk menjadi respondennya.

Setelah diambil darah dan telah dicek kolesterolnya, ibu saya menyarankan pada saya utk sekalian saja minta dicek rhesusnya agar tdk perlu berulang kali mengambil darah.

Dan….

Disinilah letak keistimewaannya, saya dikabari jika saya memiliki goldar B dg rhesus –

Awalnya respon saya datar saja, “Oh begitu ya, terimakasih infonya” sama sekali saya tak membayangkan ada ‘hal istimewa’ di balik rhesus – terlebih bagi saya yg saat ini berbadan dua.

Semalam saat saya hendak tidur, iseng saya googling rhesus negatif dan barulah saya benar-benar sadar seluk beluk rhesus negatif. Ternyata, rhesus negatif tergolong langka, hanya 15% penduduk dunia yg memiliki rhesus -, dan bahkan hanya 1% di asia.

Berbagai macam informasi berikutnya soal rhesus cukup memberi saya informasi positif dan juga kegalauan tingkat benua 😅. Saya tak mau lagi mengutip, silahkan saja menggoogling sendiri, rekomendasi saya cek lah web komunitas rhesus negatif indonesia.

Saat ini, saya hanya bisa berdoa dan berdoa semoga Allah menjaga bayi saya dan saya agar dpt melalui semua ini dg lancar dan normal tanpa kekurangan apapun aamiiin.

Walaupun masih shock dg beragam resiko yg saya baca, tapi saya tetap bersyukur karena jadi tahu dan bisa menentukan langkah apa yg harus saya ambil. Subhanallah, mungkin Allah begitu sayang pada saya hingga memberi saya kesempatan utk merasa menjadi spesial, walau sejujurnya dlm hati saya, saya ingin menjadi orang yang biasa saja 😇

Saya akan mengupdate lagi info terbaru soal rhesus ini jika sudah ada info terbaru :).

Oh ya, mohon bantuan infonya ya jika kalian tahu orang dg goldar B dan rhesus negatif khususnya yg berdomisili di Malut atau lebih baik lagi yg berdomisili di Ternate.

Sekian dulu ya, takut jika dijabarkan lebih lanjut saya malah termehek-mehek dan jadi banyak mengeluh. Saran saya, buat yg mau berkeluarga lakukanlah cek kesehatan, terutama goldar dan rhesus kamu dan pasangan 😉

Hiperemesis Gravidarum

Percayalah, nama judul di atas sekilas terbaca begitu cantik, tapi kenyataannya tak demikian.

Silahkan googling sendiri apa itu hiperemesis gravidarum? Singkat kata bisa dibilang mual muntah berlebihan saat hamil. 

Saya salah satu ibu hamil yg didiagnosa ini. Alhamdulillah sekarang memasuki 24minggu sudah jauh berkurang walaupun sesekali masih muntah juga.

Saya tidak akan berteori banyak tentang hiperemesis, saya hanya ingin sedikit berbagi utk kalian yg punya kenalan dg diagnosa ini apa yg harus dilakukan. 

Yang saya tulis disini berdasarkan pengalaman saya, jadi bisa saja ibu dg hiperemesis yg lain berpengalaman berbeda.

Perasaan saya saat menjalani ini campur aduk. Yang paling kuat adalah merasa stres, cemas, takut, marah juga sedih. Kenapa?

1. Stres

Apapun yg dimakan seakan2 menanti giliran untuk keluar, hanya sekedar numpang lewat di kerongkongan. Bahkan segelas air putih pun tak bisa ‘glek glek’ melewati tubuh saya. Banyak pertanyaan seperti apa saya bisa makan? Apa tdk akan muntah ? Saya harus makan apa biar tidak muntah serta ketakutan lemas dan akan diopname adalah sebagian kecil stressor.

2. Cemas

Tidak ada seorang ibu normal yang tidak menginginkan yg terbaik bagi buah hati. Terlebih ibu muda yg cukup perfeksionis dan rajin membaca do and dont bagi ibu hamil seperti saya. Muntah2 tiada henti membuat saya cemas, cemas dg diri saya, cemas dg pertumbuhan dan perkembangan janin saya. Bukan tak ingin memberikan yg terbaik tapi apa daya? Saya berusaha semampu saya memberikan yg saya bisa, apa saja yg bs saya makan entah nilai gizinya seperti apa yang penting bs dimakan saya makan. Pada titik ini saya benar2 merasakan pasrah pada sang Kuasa. Saya sering mengelus2 perut berbicara dg janin saya, saya minta maaf, saya berbicara apa2 yg ingin saya bicarakan. Saya percaya janin saya tahu dan merasakan betapa saya mencintai dan menginginkan yang terbaik untuknya. Doa tak putus2 saya layangkan untuknya.

3. Takut

Mual muntah terus menerus membuat logika saya kadang mapet juga hahaha. Kadang saya menjadi sedemikian irasional menghadapi mual muntah ini. Ketakutan terbesar saya lebih pada kondisi kesehatan janin yang saya kandung. Terlebih saat trimester awal. Percayalah, informasi dari internet tak semuanya menyenangkan hati. Dampak2 hiperemesis yang saya baca justru memuncahkan ketakutan saya. Jadinya saya berusaha menyaring informasi lebih dalam, saya hanya membaca penyebab dan penanganan saja juga cerita2 ibu hamil yg sukses kehamilannya walaupun mengalami hiperemesis

4. Marah

Marah terhadap diri sendiri. Saya sempat merasa kesal dan marah terhadap diri saya sendiri. Marah karena susah makan, marah karena mengalami hiperemesis dan kemarahan2 irasional lainnya. Untungnya saya segera disadarkan. Walaupun saya s.psi tapi saya tetap seorg manusia. Untungnya saya segera mengenali dan menyadari emosi saya dan mencari katarsis untuk meluapkannya. Katarsis saya adalah menulis. Entah hanya mencoret2 kertas atau gambar tak karuan rasanya jauh lebih menenangkan saat saya bisa corat coret. 

5. Sedih

Saat hamil pamali (terlalu banyak) mengeluh. Bisa kamu bayangkan semua emosi yang saya rasakan di atas harus disimpan? Menangis pun (katanya) jangan jika tak ingin punya anak cengeng. Namun kesedihan saya bukan soal itu, kesedihan saya adalah saya banyak menyusahkan orang lain terutama ibu. Rasa-rasanya saya menjadi semakin sedih karena sampai sedewasa ini pun saya masih harus menyusahkan ibu. Merepotkan ibu yang begitu bersemangat dan kreatif memecah otak mencari cara agar saya bisa makan dan tidak harus opname walau hiperemesis. Merepotkan ayah yang kesana kemari mencari buah atau apa saja yg penting saya bisa makan tanpa dimuntahkan kembali. Merepotkan abang-abang saya yang harus bersedia menu makanannya agak terganggu karena ibu lebih banyak menghabiskan waktunya mengurus saya, dan tentunya merepotkan suami yang tak bisa pergi kemana-mana karena harus selalu di samping saya, mengurusi ‘jackpot (mun**han) saya hingga menyemangati saya.

Untuk melewati semua itu, seorang ibu hamil dg hiperemesis gravidarum butuh dukungan yang sangat luar biasa dari pasangan, keluarga juga sahabat dan kerabat.

Sangat besar peran mereka yang terus menerus menyemangati saya, memberi saya ide makanan, menghibur saya dg berbagai guyonan sehingga saya tak selalu larut pada emosi negatif.

Memiliki teman mengobrol untuk mengungkapkan perasaan menjadi salah satu kunci penting. Karena saat sendirian pikiran ibu hamil dg hiperemesis menjadi mudah kacau dg kompleksitas emosi yang dirasa di atas.

Kreativitas dari keluarga dalam menyiapkan menu2 makanan agar ibu hamil dg hiperemesis tetap makan juga sangat penting. Anggota keluarga saya tak henti2nya menawari saya berbagai macam ide makanan, serta mereka tak pernah terlihat sedih marah atau kecewa jika ternyata setelah saya mencoba ide masakan tersebut dan masih mual muntah.

Hiperemesis gravidarum bagi saya ibarat perang dg diri sendiri. Perang fisik melawan muntah dan mual juga perang mental. Bagaimana ibu hamil harus bisa memotivasi dirinya untuk tetap semangat mencoba makan dan positif thinking bahwa makanan yg dimakan tdk akan dimuntahkan lagi. Karena saya akui terkadang muncul pikiran daripada makan lalu muntah lebih baik tak usah makan karena takut muntah kerap menghantui.

Percayalah muntah 7-9kali dlm sehari hingga lemas bukanlah hal yang menyenangkan.

Akhir tulisan ini saya menitipkan doa untuk semua ibu hamil khususnya dg hiperemesis gravidarum dapat melewati kehamilan dg baik, sehat, selamat tanpa kekurangan satu apapun.

Tetap positive thinking ya bu ibu, jangan sedih jika mengalami hiperemesis. Yakinlah Allah Maha Tahu, mungkin kelebihan hormon HCG yg menyebabkan hiperemesis adalah yg terbaik utk qt dan bayi kita. Allah berkata bahwa Ia sesuai persangkaan hambaNya. Jadi tetap berprasangka baik ya bu, Insya Allah semua akan terbayar pada waktunya amiiin.

Hamil

Sudah lama tak menulis, niat menulis sudah sejak lama. Pengennya sih mengabadikan tiap hari selama kehamilan dlm catatan blog. Apa daya mual muntah mengalahkan segalanya.

Yup Alhamdulillah pasca menikah, Allah tak menunda lama2 rezeki utk memiliki buah hati. Suatu hal yg sangat saya syukuri mengingat sebelumnya saya sempat dihantui rasa takut akankah saya hamil? Karena sebelum menikah saya sempat sakit kista sampai harus dioperasi.

Sejujurnya, saya dan suami kaget karena tak menyangka secepat ini dikasih amanah oleh Allah swt. Kehamilan ini kami ketahui saat sudah berusia 6 minggu, walaupun sudah diduga seminggu sebelumnya.

Awal kehamilan dilalui dg lancar, namun memasuki minggu ke 8 barulah saya mengalami mual dan muntah. Awalnya saya sempat batuk2, batuk kering. Searching2 di internet katanya batuk disebabkan perubahan hormon HCG yg salah satu dampaknya membuat produksi asam lambung meningkat dan berefek membuat tenggorokan berasa kering.
Setelah batuk mereda bersambung dengan mual dan muntah hingga sekarang di usia kehamilan hampir 15 minggu.

Awal-awalnya muntah hanya terjadi kala tengah malam. Jadi kalau ada istilah morning sickness pada saya yg terjadi adalah midnight sickness.

Jika pada ibu hamil yg lain demen dg mangga, rujak dan buah asam lainnya, saya justru sebaliknya menghindari buah2an tsb. Karena punya pembawaan gejala gastritis sedikit saja apapun yg berpotensi masam membuat muntah semakin menjadi2.

Pengalaman yg lain sulit saya jabarkan lagi. Tulisan ini tdk bermaksud utk mengeluh, hanya katarsis agar bs lebih ‘lega’. Daripada dipendem2 dan membuat lelah psikologis tentunya jauh lebih berbahaya.

Udah dulu ya, nanti kapan2 disambung lagi. C u

Menjelang 30

Sejak terakhir kali saya menerbitkan tulisan ini begitu banyak hal terjadi.

Di tanggal 24 September 2016 lalu, saya dengan kesadaran dan keinginan sendiri menambah satu status lagi dari yang tadinya seorang anak menjadi seorang isteri.

Isteri dari seorang laki-laki yang cukup berani untuk menemani saya yang keras kepala, besar ego namun juga super duper manja hehehe.

Kehidupan rumah tangga hingga memasuki (hampir) bulan ketiga ini luar biasa. Keputusan kami berdua memilih utk hidup berdua lain kota dari orangtua kami adalah keputusan besar dengan pelbagai pertimbangan.

Banyak hal yang sungguh sulit saya jabarkan. Hidup saya yang semarak kian semerbak dg pernikahan ini. Intinya saya ingin mengenang melalui catatan ini, betapa saya berbahagia….

Sedikit flashback, tak banyak orang yang tahu sebelum memutuskan untuk menikah, saya dan pak suam (begitu nama yg saya sematkan untuknya) 9 tahun dalam proses pacaran. Dari hubungan 9 thn tersebut 7 tahun dijalani dalam hubungan jarak jauh.

Wah akan sangat teramat panjang jika harus mengulas perjalanan itu disini. Lagipula, biarlah tiap detail kisah kasih itu kami patri dalam sejarah kami sendiri.

2016 punya sejarah sendiri dalam lembaran hidup saya.

Alone and loneliness

Sesungguhnya isi tulisan ini tidak sekelam judulnya, justru sebaliknya. Judulnya sengaja dibikin dramatis biar kamu tertarik untuk membaca. Karena konon katanya orang lebih tertarik utk mencari tahu kesedihan dibandingkan kegembiraan org lain.

Baiklah, dan begini ceritanya….
Sejak kecil, telah tertanam dlm pikiram saya bahwa saya seorang diri. Entah knp? Jangan kalian tanyakan karena saya sendiri pun sulit untuk menjawabnya.

Saya hanya bisa menerka2, mungkin karena status saya sebagai anak tunggal yg membuat saya merasa demikian. Padahal dalam keseharian, saya ditemani oleh banyak saudara dan teman.

Tumbuh dengan kesadaran bahwa saya seorang diri membuat saya menjadi pribadi yang cukup ambisius. Karena bagi saya, jika saya gagal orangtua saya kelak dianggap gagal mendidik saya, berhubung hanya saya satu-satunya anak yg menjadi tolak ukur penilaian masyarakat sekitar (suatu pemikiran yang dikemudian hari saya sadari tidak sepenuhnya benar).

Orang-orang sering mengira bahwa menjadi anak tunggal adalah sepi. Mungkin ada benarnya tapi banyak salahnya hehehe. Bagi saya sendiri dan kesendirian yang berujung pada perasaan sepi adalah hal yang jauh berbeda.

Kamu bisa saja berada dalam hingar bingar tapi merasa sendiri dan sepi, ibarat lagu lama Dewa ‘Di dalam keramaian aku masih merasa sepi’, atau istilah kerennya yang saya pelajari namanya alienasi.

Karena sesungguhnya sendiri dan kesendirian itu tetang perasaan, tentang jiwa. Saat kamu secara fisik seorang diri atau sendiri tapi berjiwa kaya dan bahagia kamu tak kan pernah merasa sepi, karena kamu tahu kehadiran Illahi dlm hati kan senantiasa meramaikan jiwa walau sedang bergumul dg segenap kegundahan.

Tak ada jaminan hingar bingar, riuh rendah kan selalu menceriakan…. Jika jiwamu miskin, dimana saja kamu kan selalu merasa sepi dan sendiri.

Ah, sudahlah. Bukankah manusia pada titik tertentu butuh sepi dan sendiri? Untuk berdiskusi tentang aku dengan sang aku.

Ternate, 4 September 2016

Perlindungan

Rasanya berat ketika harus menulis dg topik keluarga. Berat bukan karena tidak ada keakraban atau kehangatan keluarga untuk dijabarkan, justru sebaliknya, hampir tak ada untaian huruf, rangkaian kata-kata maupun kalimat yang mampu menjelaskan betapa dalamnya makna dari kata keluarga.

Sering di kehidupan sehari-hari kita mendengar kalimat ‘Keluarga adalah segalanya’. Kalimat tersebut benar adanya. Namun, patut dipertimbangkan apa makna dari kata segalanya dari pernyataan tersebut. Umumnya, makna kata segalanya dalam pernyataan tersebut berarti keluarga sebagai sumber kekuatan utama. Namun, tak dapat dipungkiri, terkadang keluarga pun bisa menjadi asal muasal malapetaka. How could it happen?

Idealnya untuk mewujudkan suatu keluarga yang sejahtera, berketahanan, bahagia, harmonis, sakinah, mawaddah, rahmah, menurut para pakar keluarga, setiap keluarga harus menanamkan dan menjalankan delapan fungsi keluarga.

Fungsi itu terdiri dari fungsi Agama, Cinta dan kasih sayang, Sosialisasi Pendidikan, Perlindungan, Ekonomi, Reproduksi, Lingkungan serta Sosial Budaya.

Penjelasan dan pemaknaan akan fungsi-fungsi lainnya akan saya bahas dilain kesempatan. Tulisan ini akan lebih difokuskan pada fungsi perlindungan.

Dari namanya saja, pastilah para pembaca yang budiman telah menangkap inti dari keluarga ditinjau dari fungsi perlindungan.

Diharapkan, keluarga dapat menjadi pelindung bagi individu-individu yang bernaung dlm suatu keluarga untuk memperoleh rasa aman, nyaman, damai dan tentram. Yang menjadi pertanyaan adalah perlindungan apa? Yang bagaimana? Apakah fungsi ini hanya berlaku saat keluarga dalam situasi atau kondisi genting saja? (sedang dlm masalah).

Perlindungan dalam fungsi keluarga sesungguhnya memiliki maksud yang luas. Melindungi individu dan keluarga untuk terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan hingga saat keluarga diuji ketahanannya.

Contoh sederhananya, dengan dalil keluarga adalah segalanya tak jarang keluarga menjadi alasan utama individu terlibat pada kasus korupsi, kolusi maupun nepotisme. Demi memenuhi rasa sayang bagi keluarga dilakukan segala cara untuk memenuhi kebutuhan dan kesenangan keluarga. Nah, disinilah titik penting fungsi perlindungan bagi keluarga. Sebagai keluarga, seyogyanya harus saling mengingatkan agar tak salah menafsirkan makna keluarga adalah segalanya.

Sebagai anggota keluarga, kita harus bisa mempertanyakan atau mendiskusikan keputusan-keputusan yg diambil oleh anggota keluarga yang kita tahu hal tersebut di luar batas kemampuannya.

Contoh, saat kamu tahu pendapatan keluargamu dalam sebulan sebanyak Rp.3.000.000 dan tiba-tiba keluargamu memiliki aset yang lebih dari pendapatan tersebut, sebagai anggota keluarga wajib hukumnya mempertanyakan darimana hal tersebut diperoleh?

Karena dengan mempertanyakan hal tersebut secara tidak langsung kita telah menjalankan fungsi dasar dari perlindungan keluarga, yaitu mengingatkan anggota keluarga kita untuk terhindar pada hal-hal yang salah.

Fungsi perlindungan lainnya yang dapat kita berikan adalah dengan tidak memaksa/menekan anggota keluarga untuk memenuhi keinginan kita, padahal kita tahu ambang batas kemampuan anggota keluarga kita untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena tekanan dan paksaan tersebut bisa saja justru menjadi motivasi mereka untuk melakukan penyelewengan atau tindakan-tindakan yang melanggar hukum lainnya demi memenuhi keinginan kita.

Tentunya, dalam praktek di kehidupan nyata, fungsi perlindungan tidak terlepas dari tujuh fungsi yang lain.

Tak akan ada keluarga yang saling melindungi dan memberikan rasa aman tanpa cinta kasih sayang tanpa didasari agama, budaya dan didukung oleh lingkungan, sehingga keluarga menjadi sumber utama pendidikan, mengajarkan fungsi reproduksi yang benar dan tepat serta berketahanan secara ekonomi.

Akhir tulisan ini akan saya tutup dengan pertanyaan dan pernyataan. Pertanyaannya adalah
“Apakah kita telah menjalankan fungsi kita sebagai perlindungan bagi keluarga?” atau jangan-jangan justru perilaku dan sikap kitalah penyebab keluarga kita menjadi rentan atas kekeliruan dengan mengatas namakan keluarga adalah segalanya.

Wallahu’alam Bissawab

(Tulisan ini dibuat sebagai catatan menyambut Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2016)

Gelar

Mendekam di kamar yg gelap dan diselimuti hujan itulah keadaan saya saat mengetikkan rangkaian kalimat ini.

Ah, mungkin Tuhan sengaja mengirim saya dalam keadaan begini agar bisa menulis lagi hehehe.

Beberapa saat lalu saya sempat beberapa kali menulis draft blog namun sayangnya tak kunjung ter posting.

Saat itu saya ingin membahas soal gelar. Iya gelar yg melekat pada nama seseorang. Entah bagi orang lain apa makna gelar, tapi bagi saya, ketika suatu gelar terlekatkan pada diri saya, sejak saat itu segala profesionalisme dan tanggungjawab pun menyertainya.

Itulah kenapa saya sangat jarang menyematkan gelar keilmuan di belakang nama saya. Saya lebih suka disapa dg nama pemberian ortu apa adanya tanpa gelar kesarjanaan.

Saya sering merasa heran dg orang-orang yang kerap marah apabila ada oranglain lupa menyematkan gelar pada namanya. Katanya tidak menghargai proses betapa susahnya mereka mendapatkan gelar tersebut terlebih jika mereka adalah lulusan universitas yg cukup ternama

Ya, memang benar itu hak mereka, saya tidak akan menjudge apapun. Yang pasti hal tersebut tidak terjadi atau bahkan tidak berlaku bagi saya, karena bagi saya, keilmuan bukan dipamerkan dg gelar, keilmuan patut dibanggakan namun tdk hanya dlm penyematan gelar

Keilmuan dibanggakan dan diakui dg pengaplikasian ilmu yg sudah didapatkan kepada masyarakat. Seberapa bermanfaat kamu dg gelarmu itu bagi mereka?  Sudahkah sekurang-kurangnya lingkungan sekitarmu memperoleh manfaat dari keahlianmu yg kau peroleh?

Karena sesungguhnya Allah memang meninggikan derajat org yang berilmu namun, ilmu semata tidaklah cukup, yg membedakan manusia di hadapan Allah hanyalah amal dan iman.

Dan….
Gelar terakhir kita hanyalah Almarhum / Almarhumah